MALANG – Penggunaan bahasa gaul di kalangan generasi muda semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari seiring pesatnya perkembangan teknologi digital dan media sosial. Fenomena tersebut menjadi perhatian dalam penelitian yang dilakukan oleh Marcellino Yosef Imanuel bersama tim mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan Universitas Brawijaya.
Penelitian ini mengkaji bagaimana generasi muda memandang penggunaan bahasa gaul, faktor yang mendorong perkembangannya, serta dampaknya terhadap pola komunikasi dan penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai situasi. Untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif, tim peneliti mewawancarai sembilan narasumber yang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari siswa sekolah menengah atas, mahasiswa, hingga pekerja.
Marcellino Yosef Imanuel menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari semakin maraknya penggunaan istilah-istilah gaul yang berkembang melalui media sosial dan kemudian digunakan secara luas dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut hasil penelitian, mayoritas narasumber memandang bahasa gaul sebagai bentuk bahasa informal yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Kehadirannya dinilai mampu menciptakan komunikasi yang lebih santai, akrab, dan mudah dipahami, terutama di kalangan generasi muda.
Salah satu narasumber, Lais, siswa SMA, menilai bahwa perkembangan bahasa gaul tidak dapat dipisahkan dari pengaruh budaya populer yang berkembang di media sosial.
"Bahasa gaul itu merupakan bahasa yang informal, yang berkembang secara dinamis di kalangan generasi muda dan biasanya dipengaruhi oleh budaya populer di media sosial dan interaksi sehari-hari," ujarnya.
Penelitian tersebut menemukan bahwa platform digital seperti TikTok, Instagram, dan X memiliki peran besar dalam membentuk tren bahasa baru. Berbagai istilah yang awalnya muncul dari konten kreator, influencer, atau percakapan komunitas tertentu dapat dengan cepat menyebar dan digunakan oleh masyarakat luas.
Rama, salah satu narasumber yang merupakan mahasiswa Universitas Brawijaya, mengatakan bahwa banyak istilah populer saat ini lahir dari candaan, plesetan, atau tren yang berkembang di internet sebelum akhirnya menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari.
Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa gaul juga dinilai memiliki nilai sosial yang kuat. Penggunaan istilah yang sama sering kali menjadi penanda kedekatan antarindividu maupun kelompok. Hal ini membuat bahasa gaul tidak hanya berfungsi sebagai sarana bertukar informasi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas sosial generasi muda.
Di sisi lain, penelitian Marcellino Yosef Imanuel dan tim juga menemukan adanya tantangan yang muncul dari penggunaan bahasa gaul yang semakin dominan. Beberapa narasumber mengaku kebiasaan menggunakan bahasa nonformal terkadang memengaruhi kemampuan mereka saat harus menggunakan bahasa Indonesia yang baku dalam situasi resmi.
Fenomena tersebut kerap ditemukan dalam lingkungan pendidikan. Sejumlah mahasiswa mengaku pernah secara tidak sadar menggunakan istilah nonformal ketika mengerjakan tugas akademik atau menyusun tulisan resmi karena telah terbiasa menggunakan bahasa gaul dalam komunikasi sehari-hari.
Hal serupa disampaikan Safero, siswa SMA yang menjadi salah satu responden penelitian.
"Kalau kebanyakan pakai bahasa gaul, kadang jadi susah pas harus ngomong atau nulis yang formal. Kayak kepikiran kata gaul terus," katanya.
Temuan lainnya menunjukkan bahwa batas antara bahasa formal dan informal saat ini semakin fleksibel. Istilah yang sebelumnya hanya digunakan dalam percakapan santai kini mulai muncul dalam berbagai aktivitas organisasi, lingkungan kampus, hingga komunikasi kerja yang bersifat semi formal.
Beberapa istilah seperti besti, spill, healing, red flag, dan FOMO disebut semakin sering digunakan oleh generasi muda dalam berbagai konteks komunikasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bahasa gaul telah berkembang menjadi bagian dari budaya komunikasi digital yang memengaruhi cara masyarakat berinteraksi.
Meskipun demikian, mayoritas narasumber tidak memandang bahasa gaul sebagai ancaman bagi keberlangsungan bahasa Indonesia. Mereka menilai kedua ragam bahasa tersebut memiliki fungsi yang berbeda dan dapat digunakan secara berdampingan sesuai kebutuhan.
Farikha, mahasiswa Universitas Airlangga yang turut menjadi narasumber, menekankan pentingnya memahami konteks penggunaan bahasa.
"Yang penting kita tahu tempat. Kalau sama dosen ya pakai bahasa formal, kalau sama teman ya pakai bahasa gaul. Jadi bukan kualitasnya yang turun, tetapi cara penggunaannya yang semakin beragam," ungkapnya.
Berdasarkan hasil penelitian, media sosial menjadi faktor utama yang mendorong perkembangan bahasa gaul di kalangan generasi muda. Selain itu, kebutuhan komunikasi yang cepat, praktis, dan mudah dipahami juga menjadi alasan mengapa bahasa gaul semakin banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui penelitian ini, Marcellino Yosef Imanuel dan tim menyimpulkan bahwa bahasa gaul merupakan bagian dari dinamika perkembangan bahasa yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan generasi muda di era digital. Kehadirannya mencerminkan kreativitas berbahasa, identitas sosial, serta kemampuan masyarakat dalam beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan budaya komunikasi modern.
Meski demikian, penelitian tersebut menegaskan pentingnya menjaga kemampuan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan memahami konteks penggunaan bahasa, generasi muda diharapkan mampu menempatkan bahasa gaul dan bahasa formal secara proporsional sehingga keduanya dapat berjalan berdampingan tanpa mengurangi fungsi masing-masing.
(Red)

